Senin, 23 Februari 2015

HIPOTERMI DAN HIPERTERMI PADA NEONATUS



 
HIPOTERMI DAN HIPERTERMI PADA NEONATUS
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan ridho-Nya Makalah Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi ini dapat penulis selesaikan. Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Ibu Febrina Suci Hati, S. SiT, yang telah memberikan arahan dalam pembuatan makalah ini.
Makalah ini dibuat untuk mencapai tingkat ke dalam memadai sebagai sumber belajar walaupun dalam wujudnya yang belum sempurna, makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber belajar bagi yang memerlukan.
Kesempurnaan hanyalah milik Allah, oleh karena itu kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
Akhirnya, semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua dan Allah berkenan menerima amal bakti yang diabadikan pada kita semua. Amin.
Yogyakarta, Desember 2013
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
B.     Etiologi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
C.     Patofisiologi  Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
D.    Gejala Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
E.     Penanganan  Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
F.      Komplikasi Berkelanjutan Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Hipotermi dan hipertermi pada neonatus  merupakan kejadian umum di seluruh dunia. Di rumah sakit Ethiopia, 67% bayi dengan berat badan lahir rendah dan beresiko tinggi dari luar rumah sakit yang dimasukkan ke dalam unit perawatan khusus adalah bayi yang hipotermia. Sama halnya dengan India, angka kematian karena hipertermia dan hipotermia mencapai dua kali lipat angka kematian bayi yang tidak mengalaminya.
Menurut data dari organisasi kesehatan dunia ( WHO ), pada tahun 1995 hampir semua (98%) dari 5 juta kematian neonatal terjadi di negara berkembanga. Lebih dari 2/3 kematian itu terjadi pada periode neonatal dini. Umumnya karena berat badan lahir <2500 gram. Menurut WHO, 17% dari 25 juta persalinan pertahun adalah BLBR dan hampir semuanya terjadi pada negara berkembang.
Sekelompok peneliti dari Inggris yang tergabung dalam Department International Development pernah melakukan penelitian terhadap 10.946 bayi pada tahun 2004. Sekitar bulan setiap tahun 2006 lalu, ditemukan bahwa bayi normal yang langsung diletakkan di dada ibunya minimal 30 menit, pada usia 20 menit dan akan merangkak sendiri ke payudara ibu. Sementara itu, pada usia 50 menit, dengan susah payah dia akan merangkak dan menemukan puting susu ibunya untuk menyusu.  Sejalan dengan penelitian tersebut, para dokter Eropa dan Amerika Serikat kini giat mengkampanyekan pemberian asi pada bayi baru lahir , proses tersebut dinamakan inisiasi dini. Bahkan Dr. Utami Roesli, dokter spesialis anak dan aktivis ASI berpendapat apabila inisiasi dini didukung oleh semua pihak terkait, termasuk tenaga kesehatan , kemungkinan akan mampu mencegah kematian bayi sebelum usia 28 hari.
B.     Rumusan Masalah
1.      Definisi Hipotermi dan Hipertermi
2.      Etiologi Hipotermi dan Hipertermi
3.      Patofisiologi Hipotermi dan Hipertermi
4.      Gejala Hipotermi dan Hipertermi
5.      Penanganan Hipotermi dan Hipertermi
6.      Komplikasi berkelanjutan dari Hipotermi dan Hipertermi
C.     Tujuan
Agar dapat mengetahui dan mengaplikasikan pengetahuan dalam praktik kebidanan tentang:
1.      Definisi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
2.      Etiologi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
3.      Patofisiologi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
4.      Gejala Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
5.      Penanganan Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
6.      Komplikasi berkelanjutan dari Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.      Definisi Hipoterm pada Neonatus
Hipotermia adalah turunmya suhu tubuh bayi dibawah 30 (Abdul Saifuddin, 2002). Hipotermia adalah pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas. (Patricia A. 2005). Hipotermia adalah suhu rektal bayi dibawah 350C. (Hellen, 1999). Hipotermi pada BBL adalah suhu di bawah 36,5 ºC, yang terbagi atas : hipotermi ringan (cold stres) yaitu suhu antara 36-36,5 ºC, hipotermi sedang yaitu antara 32-36ºC, dan hipotermi berat yaitu suhu tubuh <32 ºC. (Yunanto, 2008:40).
2.      Definisi Hipertermi pada Neonatus
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhui oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik)
Sengatan panas (heat stroke) per definisi adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40 derajat celcius disertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat. Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.
B.     Etiologi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.      Etiologi Hipotermi
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama, setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
Terjadi perubahan termoregulasi dan metabolik sehingga :
a.       Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat setelah kelahiran karena lingkungan eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus.
b.      Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.
c.       Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi. konveksi, radiasi, dan evaporasi.
d.      Trauma dingin cold stress (hipotermia) pada bayi baru lahir, dalam huhungannya dengan asidosis metabolik dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat
Mekanisme kehilangan panas
a.       Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi setelah lahir karena bayi tidak cepat dikeringkan atau terjadi setelah bayi dimandikan
b.      Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi
c.       Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang mempunyai temperatur tubuh rendah dari temperature tubuh bayi. Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.
d.      Konveksi Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi. Missal: bayi diletakkan dekat, pintu / jendela terbuka.
2.      Etiologi Hipertermi
Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan karena:
a.       Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan
b.      Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.
c.       Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.
d.      Latihan / gerakan yang berlebihan.
C.     Patofisiologi Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.      Patofisiologi Hipotermi
Sewaktu kulit bayi menjadi dingin, saraf afferen menyampaikan pada sentral pengatur panas di  hipothalamus. Saraf yang dari hipothalamus sewaktu mencapaib ro wn fat memacu pelepasan noradrenalin lokal sehingga trigliserida dioksidasi menjadi gliserol dan asam lemak. Blood gliserol  level meningkat, tetapi asam lemak secara lokal dikonsumsi untuk menghasilkan panas. Daerah brown fat menjadi panas, kemudian didistribusikan ke beberapa bagian tubuh melalui aliran darah.
Ini menunjukkan bahwa bayi akan memerlukan oksigen tambahan dan glukosa untuk metabolisme yang digunakan untuk menjaga tubuh tetap hangat.Methabolicther mogenesis yang efektif memerlukan integritas dari sistem syaraf sentral,kecukupan darib r own fat, dan tersedianya glukosa serta oksigen. Perubahan fisiologis akibat hipotermia yang terjadi pada sistem syaraf pusat antara lain: depresi linier dari metabolisme otak, amnesia, apatis, disartria, pertimbangan yang terganggu adaptasi yang salah, EEG yang abnormal, depressi kesadaran yang progresif, dilatasi pupil, dan halusinasi. Dalam keadaan berat dapat terjadi kehilangan autoregulasi otak, aliran darah otak menurun, koma, refleks okuli yang hilang, dan penurunanyangprogressif dari aktivitas EEG.
Pada jantung dapat terjadi takikardi, kemudian bradikardi yang progressif, kontriksi pembuluh darah, peningkatan cardiacout put, dan tekanan darah. Selanjutnya, peningkatan aritmia atrium dan ventrikel, perubahan EKG dan sistole yang memanjang, penurunan tekanan darah yang progressif, denyut jantung, dan cardiacout put disritmia serta asistole. Pada pernapasan dapat terjadi takipnea, bronkhorea, bronkhospasma, hipoventilasi konsumsi oksigen yang menurun sampai 50%, kongesti paru dan edema, konsumsi oksigen yang menurun sampai 75%, dan apnoe. Pada ginjal dan sistem endokrin, dapat terjadicold diuresis, peningkatan katekolamin, steroid adrenal, T3 dan T4 dan menggigil; peningkatan aliran darah ginjal sampai 50%, autoregulasi ginjal yang intak, dan hilangnya aktivitas insulin. Pada keadaan berat, dapat terjadi oliguri yang berat dan poikilotermia.
2.      Patofisiologi Hipertermi
Sengatan panas didefinisikan sebagai kegagalan akut pemeliharaan suhu tubuh normal dalam mengatasi lingkungan yang panas. Orang tua biasanya mengalami sengatan panas yang tidak terkait aktifitas karena gangguan kehilangan panas dan kegagalan mekanisme homeostatik. Seperti pada hipotermia, kerentanan usia lanjut terhadap serangan panas berhubungan dengan penyakit dan perubahan fisiologis.

D.    Gejala Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.       Gejala Hipotermi
a.       Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, tidak kuat menghisap asi, dan menangis lemah.
b.      Timbulnya sklerema atau kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan tangan.
c.       Muka bayi berwarna merah terang.
d.      Tampak mengantuk .
e.       Kulitnya pucat dan dingin.
f.       Lemah, lesu, menggigil.
g.      Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada.
h.      Ujung jari tangan dan kaki kebiruan.
i.        Bayi tidak mau minum/menyusui.
j.        Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun
1)      Indikasi Penyakit Hipotermia:
a.       Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 320C - <360C).
b.      Gigi gemeretakan, merasa sangat letih dan mengantuk yang sangat luar biasa.
c.       Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan fisik menjadi lamban.
d.      Bila tubuh bayi basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.
2) Tanda-tanda klinis hipotermia:
a)      Hipotermia sedang:
·         Kaki teraba dingin.
·         Kemampuan menghisap lemah.
·         Tangisan lemah.
·         Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
b)      Hipotermia berat
·         Sama dengan hipotermia sedang.
·         Pernafasan lambat tidak teratur.
·         Bunyi jantung lambat.
·         Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
·         Stadium lanjut hipotermia.
·         Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
·         Bagian tubuh lainnya pucat.
·         Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema).
2.       Gejala Hipertermi
a.       Suhu tubuh bayi > 37,5 °C
b.      Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
c.       Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, jumlah urine berkurang
E.     Penanganan Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.       Penanganan Hipotermi
a.        Mengatasi bayi hipotermi dilakukan dengan cara :
Prinsip penanganan hipotermia adalah penstabilan suhu tubuh dengan menggunakan selimut hangat (tapi hanya pada bagian dada, untuk mencegah turunnya tekanan darah secara mendadak) atau menempatkan pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga minuman hangat(kalau pasien dalam kondisi sadar).
Penanganan Hipotermi dengan pemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat terjadi apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5-1°C tiap jam (pada bayi < 1000 gram penghangatan maksimal 0,6 °C). (Indarso, F, 2001). Alat-alat Inkubator Untuk bayi < 1000 gram, sebaiknya diletakkan dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut dapat dikeluarkan dari inkubator apabila tubuhnya dapat tahan terhadap suhu lingkungan 30°C. Radiant Warner Adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan. Dapat menggunakan servo controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle (dengan mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
b.       Pencegahan Hipotermia Pada Bayi:
1)      Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi harus dibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi ditempatkan dibawah cahaya penghangat.Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus tetap berada dalam keadaan hangat.
2)      Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh akibat penguapan lalu dibungkus dengan selimut dan diberi penutup kepala.
3)      Melaksanakan metode kanguru, yaitu bayi baru lahir dipakaikan popok dan tutup kepala diletakkan di dada ibu agar tubuh bayi menjadi hangat karena terjadi kontak kulit langsung.Bila tubuh bayi masih teraba dingin bisa ditambahkan selimut.
4)      Bayi baru lahir mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau dihangatkan diatas tungku.
5)      Menghangatkan bayi dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang diletakkan pada jarak setengah meter diatas bayi.
6)      Terapi yang bisa diberikan untuk bayi dengan kondisi hipotermia, yaitu jalan nafas harus tetap terjaga juga ketersediaan oksigen yang cukup.
2.       Penanganan Hipertermi
a.       Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 26°C- 28°C
b.      Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu bayi normal (jangan menggunakan es atau alcohol)
c.       Berikan cairan dektrose NaCl = 1 : 4 secara intravena dehidrasi teratasi
d.      Antibiotic diberikan apabila ada infeksi
Terapi untuk mengatasi hipertermia adalah pendinginan. Hal ini dimulai segera di lapangan dan suhu tubuh inti harus diturunkan mencapai 39 derajat Celsius dalam jam pertama. Lamanya hipertermia adalah yang paling menentukan hasil akhir. Berendam dalam es lebih baik dari pada menggunakan alkohol maupun kipas angin. Komplikasi membutuhkan perawtan di ruang intensif.
Suhu tubuh kita dalam keadaan normal dipertahankan di kisaran 37'C oleh pusat pengatur suhu di dalam otak yaitu hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut selalu menjaga keseimbangan antara jumlah panas yang diproduksi tubuh dari metabolisme dengan panas yang dilepas melalui kulit dan paru sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran normal. Walaupun demikian, suhu tubuh kita memiliki fluktuasi harian yaitu sedikit lebih tinggi pada sore hari jika dibandingkan pagi harinya.
Demam merupakan suatu keadaan dimana terdapat peningkatan suhu tubuh yang disebabkan kenaikan set point di pusat pengatur suhu di otak. Hal ini serupa dengan pengaturan set point (derajad celsius) pada remote AC yang bilamana set point nya dinaikkan maka temperatur ruangan akan menjadi lebih hangat. Suatu nilai suhu tubuh dikatakan demam jika melebihi 37,2 ‘C pada pengukuran di pagi hari dan atau melebihi 37,7'C pada pengukuran di sore hari dengan menggunakan termometer mulut. Termometer ketiak akan memberikan hasil nilai pengukuran suhu yang lebih rendah sekitar 0.5'C jika dibandingkan dengan termometer mulut sehingga jenis termometer yang digunakan berpengaruh dalam pengukuran suhu secara tepat.
Sebagian besar kasus demam memang disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi dan peradangan sehingga gejala demam seringkali diidentikkan dengan adanya infeksi dalam tubuh. Namun sebenarnya ada banyak proses lainnya selain infeksi yang dapat menimbulkan gejala demam antara lain alergi, penyakit autoimun, kelainan darah dan keganasan. Berbagai proses tersebut akan memicu pelepasan pirogen, yaitu mediator penyebab demam, ke dalam peredaran darah yang lebih lanjut akan memicu pelepasan zat tertentu yang bernama prostaglandin sehingga akan menaikkan set point di pusat pengaturan suhu di otak.
F.      Komplikasi berkelanjutan dari Hipotermi dan Hipertermi pada Neonatus
1.       Komplikasi berkelanjutan dari Hipotermi
a.       HipoglikemiAsidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme anaerob.
b.      Kebutuhan oksigen yang meningkat.
c.       Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
d.      Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat.
e.       Shock.
f.       Apnea.
g.      Perdarahan Intra Ventricular
Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah dapat mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisi yang parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi. Hipotermia bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruubuh (Edema Generalisata), menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata. Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Di samping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian
2.       Komplikasi berkelanjutan dari Hipertermi
Terapi hipertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan normal/sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8oC. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda.
Hal yang sering terjadi adalah rasa panas (seperti terbakar), bengkak berisi cairan, tidak nyaman, bahkan sakit.
Teknik perfusi dapat menyebabkan pembengkakan jaringan, penggumpalan darah, perdarahan, atau gangguan lain di area yang diterapi. Tetapi efek samping ini bersifat sementara. Sedang whole body hyperthermia dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius –tetapi jarang terjadi– seperti kelainan jantung dan pembuluh darah. Kadang efek samping yang muncul malah diare, mual, atau muntah.





BAB III
KESIMPULAN
Hipertemi dan hipotermi pada neonatus  merupakan kejadian umum di seluruh dunia. Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 ºC.  Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan : Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan, Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa, Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris, Latihan / gerakan yang berlebihan.
Penanganan hipertermi : Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 26°C- 28°C, Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu bayi normal (jangan menggunakan es atau alcohol), Berikan cairan dektrose NaCl = 1 : 4 secara intravena dehidrasi teratasi, Antibiotic diberikan apabila ada infeksi
Hipotermi adalah suhu di bawah 36,5 ºC, yang terbagi atas : hipotermi ringan (cold stres) yaitu suhu antara 36-36,5 ºC, hipotermi sedang yaitu antara 32-36ºC, dan hipotermi berat yaitu suhu tubuh <32 ºC. (Yunanto, 2008:40).
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama, setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
Gejala Klinis : Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi aktif letergis hipotanus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah, Pernafasan megap-megap dan lambat dan menangis lemah, Timbul skrema kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan, Muka bayi berwarna pucat. Segera hangatkan bayi apabila tersedia alat yang canggih seperti incubator, gunakan incubator sesuai dengan ketentuan.
DAFTAR PUSTAKA
Bari, Abdul S. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Farrer, H. 1999. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Potter. Patricia A. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, S. 2006. Buku Acuan Nasional : Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : YBP-SP.
Rukiyah dan Yulianti, L. 2010. Asuhan Neonatus, bayi dan anak Balita. Jakarta: TIM.

0 komentar:

Posting Komentar

Text Widget

anda pengunjung yang ke -

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Search